Repositori Pengetahuan Repositori FKKI merupakan wadah publikasi terkait pembangunan berkelanjutan dan konservasi alam dari anggota FKKI.

Anggota FKKI terdiri dari:

  1. Burung Indonesia
  2. Conservation International
  3. Greenpeace Indonesia
  4. KEHATI
  5. TNC
  6. World Resource Institute (WRI)
  7. Profil WWF
  8. WCS
  9. Wetlands

1. Burung Indonesia
Melestarikan Alam Nusantara Bersama Anda

Burung Indonesia didirikan sebagai organisasi konservasi nasional pada 15 Juli 2002 dengan nama resmi Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (BirdLife Indonesia Association). Dengan dukungan masyarakat, kami berusaha melestarikan burung-burung liar di Indonesia beserta habitatnya. Sebelumnya, pada 1992-2002 organisasi ini dikenal sebagai BirdLife International-Indonesia Programme.

Kami merupakan bagian dari kemitraan global BirdLife International yang terdiri dari 122 organisasi-organisasi mandiri berbasis keanggotaan di seluruh dunia. Burung Indonesia bekerja sama dengan masyarakat untuk mengembangkan kapasitas kelompok-kelompok atau komunitas lokal dan menjalin kerja sama dengan para pihak.

Pada tahun-tahun awal sebagai BirdLife International-Indonesia Programme, fokus kerja organisasi ini yaitu mengidentifikasi Daerah Penting bagi Burung dan Keragaman Hayati (DPB). Pengembangan jaringan serta pembentukan kelompok-kelompok pengamat burung juga merupakan komponen kerja Burung Indonesia selama masa tersebut. Pada masa ini beberapa DPB juga didorong untuk menjadi kawasan perlindungan.

Hingga saat ini, kami aktif memfasilitasi peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan perlindungan, mengingat lebih dari separuh DPB berada di luar jaringan kawasan perlindungan di Indonesia. Burung Indonesia berperan aktif dalam aksi konservasi dan advokasi yang efektif di tingkat nasional dan lokal, juga menciptakan kesempatan memengaruhi agenda global.

2. Conservation International

Berlandaskan pada ilmu pengetahuan, kemitraan dan pengalaman, Conservation International memberdayakan masyarakat untuk menjaga alam, keanekaragaman hayati dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Conservation International didirikan pada 1987, dan bekerja di Indonesia sejak tahun 1991 bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan pemerintah daerah setempat untuk mendukung masyarakat madani yang sejahtera melalui upaya perlindungan alam, dukungan sistem produksi yang berkelanjutan, dan dukungan tata kelola yang efektif. Conservation International berkantor pusat di Washington DC, mempekerjakan 900 orang yang bekerja di 30 negara pada empat benua, serta bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia.

3. Greenpeace Indonesia

Greenpeace hadir karena bumi yang rapuh ini perlu suara. Butuh solusi. Butuh perubahan. Butuh aksi. Pada tahun 1971, Greenpeace menyaksikan dampak buruk dari uji coba nuklir yang di lakukan Amerika Serikat di Amchitka, sebuah pulau kecil di pesisir barat Alaska, yang merupakan tempat perlindungan terakhir bagi 3.000 berang-berang dan rumah elang kepala botak dan satwa liar lainnya. Walaupun mereka menggunakan kapal tua bernama Phyllis Cormack, yang mengalami berbagai halangan sebelum sampai di Alaska, perjalanan mereka menimbulkan banyak perhatian publik. Amerika Serikat masih terus mendanai uji coba bom nuklir di Amchitka, tetapi suara penolakan terus bergaung dan akhirnya didengar. Pada tahun yang sama, uji coba nuklir berakhir, dan pulau tersebut dideklarasikan menjadi suaka alam untuk burung. Kini, Greenpeace menjadi organisasi internasional yang berkampanye untuk perlindungan lingkungan secara global yang berkantor pusat di Amsterdam, Belanda. Greenpeace mempunyai 2,8 juta pendukung di seluruh dunia dan memiliki kantor regional di 41 negara termasuk Indonesia.

Selama bertahun-tahun, Greenpeace telah melakukan suatu perubahan positif untuk lingkungan dunia dan juga termasuk Asia Tenggara. Sebagai organisasi kampanye yang independen, Greenpeace menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas publik dalam setiap kampanye, penggalangan dana, hingga manajemen penggunaan dananya. Terlebih lagi mengingat tulang punggung kampanye Greenpeace adalah donasi dari individu-individu. Greenpeace juga merupakan anggota dari Accountable Now, sebuah platform global organisasi-organisasi masyarakat sipil. Setiap tahun kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan Greenpeace dilaporkan kepada publik sesuai dengan pelaporan Accountable Now dan kepada auditor independen. Dalam menjalankan kegiatan organisasinya Greenpeace berpegang pada 4 nilai dasar yaitu:

  • Aksi tanpa kekerasan dan bertanggung jawab secara pribadi
  • Independensi
  • Greenpeace tidak punya lawan atau kawan yang permanen
  • Mempromosikan solusi

4. KEHATI

Situasi keanekaragaman hayati Indonesia bukan tanpa harapan. Sejak tahun 1994, KEHATI, sebagai sebuah institusi pengelola hibah (grant-making) independen, terus bekerja dengan mitra-mitranya melestarikan keanekaragaman hayati dan mendukung upaya-upaya pelestariannya, serta penggunannya secara berkelanjutan. Kemitraan yang dibangun  oleh KEHATI dimaksudkan untuk mendorong partisipasi masyarakat, melibatkan sisi bisnis dan kelompok-kelompok lain dalam konservasi keanekaragaman hayati. Sejak berdiri, KEHATI telah bekerja sama dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh Indonesia.

Alam lestari untuk manusia kini dan masa depan anak negeri.

MISI KEHATI

  • Mengembangkan pengetahuan, kearifan lokal dan praktek-praktek pelestarian
  • Memperluas gerakan ekonomi hijau dan budaya lokal
  • Menggalang angkatan muda dan generasi milenial
  • Mendorong perbaikan tatanan kebijakan publik yang bersih, transparan dan akuntabel
  • Memperkuat       dan        mengembangkan              sumber-sumber,               sistem pendanaan dan mekanisme pembiayaan yang inovatif.

Indeks Saham Sri-Kehati – Better Investment, Better Living

KEHATI bekerja sama dengan PT Bursa Efek Indonesia telah meluncurkan sebuah indeks yang menerapkan metode investasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Indeks yang sudah diakui dunia itu bernama Sustainable and Responsible Investment (SRI) KEHATI. SRI-KEHATI menyajikan indeks rujukan yang berisi perusahaan-perusahaan yang memenuhi kriteria yang secara berkala dievaluasi. Kriteria tersebut adalah kepedulian pada lingkungan, tata kelola perusahaan, keterlibatan masyarakat, sumber daya manusia, hak asasi manusia, dan perilaku bisnis dengan etika bisnis yang diterima di tingkat internasional. Yayasan KEHATI menetapkan 25 (dua puluh lima) perusahaan terpilih yang dianggap dapat memenuhi kriteria dalam indeks SRI-KEHATI sehinggadapat menjadi pedoman bagi para investor.

5. TNC

Yayasan Konservasi Alam Nusantara adalah organisasi konservasi alam berbasis ilmiah yang melindungi daratan dan perairan yang menjadi penyangga kehidupan di seluruh wilayah Indonesia. Kami percaya bahwa alam dan manusia dapat hidup bersandingan dengan mendorong tata kelola dan manajemen sumber daya alam yang efektif, serta solusi inovatif dengan mengedepankan kolaborasi multipihak. YKAN adalah afiliasi dari oraganisasi konservasi alam global, The Nature Conservancy, yang berdiri sejak 1951  dan telah bekerja di 79 negara dan wilayah di dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.sayasigap.org.

6. World Resource Institute (WRI)

World Resources Institute Indonesia, didirikan di Indonesia dengan nama Yayasan Institut Sumber Daya Dunia, adalah lembaga kajian independen yang fokus pada pembangunan sosio-ekonomi nasional secara inklusif dan berkelanjutan. Pekerjaan kami fokus pada enam bidang utama: hutan, iklim, energi, kota dan transportasi, tata kelola, dan laut. Kami mengaktualisasikan gagasan-gagasan besar ke dalam aksi nyata pada titik temu yang menghubungkan lingkungan dengan peluang ekonomi dan kesejahteraan manusia.

7. Profil WWF

Tentang Kami

VISI

WWF-Indonesia memiliki visi untuk konservasi yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di Indonesia, dengan berfokus pada tata kelola sumber daya alam yang adil untuk menjamin manfaat konservasi di masa depan:

“Ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia lestari, berkelanjutan dan terkelola secara adil, untuk kesejahteraan generasi kini dan nanti”

MISI

Untuk mewujudkan visi ini, WWF-Indonesia menetapkan misi berikut ini:

Mewujudkan tata kelola ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia yang adil dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia, melalui:

  • Mengimplementasikan dan mendorong praktik konservasi berdasakan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kearifan lokal;
  • Membangun koalisi dan kemitraan dengan masyarakat sipil, bekerja bersama pemerintah dan swasta untuk pembangunan berkelanjutan; Mendorong nilai-nilai konservasi lingkungan hidup dengan meningkatkan kesadartahuan dan aksi konservasi di tengah masyarakat;
  • Mengadvokasi dan memengaruhi kebijakan dan mendorong penegakan hukum di institusi yang bertanggung jawab guna terlaksananya tata kelola lingkungan yang baik.”

8. WCS

Wildlife Conservation Society (WCS) adalah lembaga konservasi yang bertujuan melestarikan tempat-tempat alami terluas di dunia yang berada di 15 wilayah prioritas dan menjadi rumah bagi lebih dari 50 persen keanekaragaman hayati dunia. Program Konservasi Global WCS bertujuan menyelamatkan hidupan liar dan wilayah alami dengan cara memahami isu kritis, membangun solusi berbasis sains, dan melaksanakan aksi konervasi yang bermanfaat bagi manusia dan alam. WCS memiliki visi Sebuah dunia di mana satwa liar tumbuh dan berkembang di habitat darat dan laut yang sehat, dihargai dan diayomi oleh masyarakat yang sekaligus mendapatkan manfaat dari keragaman dan integritas kehidupan di muka bumi. WCS mengarahkan misinya untuk menyelamatkan satwa liar dan tempat-tempat alami di seluruh dunia melalui ilmu pengetahuan, aksi konservasi, pendidikan, serta sekaligus menginspirasi banyak orang untuk menghargai alam.    

WCS telah bekerja di indonesia secara kontinyu sejak tahun 1995, dari Sumatera di wilayah barat hingga Papua di timur, dan semua gugus kepulauan utama di antaranya. The Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP) bekerja menyelamatkan keragaman hayati Indonesia, terutama jenis-jenis yang menjadi prioritas pemerintah. Program WCS-IP saat ini berfokus kepada megafauna Sumatera, keragaman hayati khas Sulawesi, membangun kawasan perlindungan laut di Aceh (Sumatera), Jawa, Nusa Tenggara barat, Sulawesi, dan Maluku Utara, selain meningkatkan pengelolaan perikanan.

WCS-IP telah tumbuh secara signifikan dalam dekade terakhir, dan berkontribuso secara substansial bagi konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Dengan lebih dari 170 staf di seluruh Indonesia, WCS-IP bekerja menjalankan konservasi di semua lini untuk menyelamatkan hidupan liar, dari perlindungan satwa di habitat alaminya hingga dukungan teknis dalam penegakan hukum. Dalam enam programnya, WCS-IP memilih 14 spesies prioritas yang mewakili lokasi di mana WCS menjalankan intervensi secara langsung di tingkat tapak.

9. Wetlands

Yayasan Lahan Basah (YLBA)

Yayasan Lahan Basah (YLBA) merupakan organisasi nir-laba global non pemerintah yang bergerak di bidang konservasi dan restorasi lahan basah.

YLBA bersifat independen dan mengedepankan jaringan kerja sama dengan berbagai lembaga/ instansi seperti: pemerintah, berbagai NGO, jaringan staff, para ahli, dan sukarelawan. YLBA bekerja berlandaskan 6 nilai inti yaitu; pertama: proyek yang dilakukan dapat diterapkan secara global, kedua: proyek yang dilakukan berdasarkan sound science,  ketiga: bekerja melalui kerjasama dengan berbagai pihak dengan cakupan kerjasama yang luas, keempat: bekerja dengan menghargai nilai-nilai tradisional, kelima: menjunjung hak asasi manusia dan kesetaraan gender, keenam: bekerja dengan akuntabilitas dan transparan.

Terbentuknya Yayasan Lahan Basah (YLBA)

Yayasan Lahan Basah resmi diakui dan terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tanggal 21 Maret 2018, No. AHU-0004332.AH.01.04 Tahun 2018.

YLBA merupakan wadah/ lembaga yang sebelumnya bernama Wetlands International Indonesia. Perubahan menjadi entitas nasional ini dalam rangka memenuhi aspirasi internal (Wetlands International saat itu) dan untuk mendukung serta menguatkan seluruh kegiatan lembaga yang notabenenya berada di wilayah negara Republik Indonesia.

Sebagai lembaga berentitas nasional, YLBA tetap merupakan bagian dari jaringan kerja global Wetlands International. Selama masa transisi tersebut, kebijakan lembaga secara resmi masih mencantumkan dan memperkenalkan nama Wetlands Internasional Indonesia di setiap event ataupun pada materi-materi publikasi, hingga batas waktu yang dianggap cukup.

Pencarian Lanjutan

Pilih Bahasa

Organisasi FKKI

Bagian ini bisa dimasukkan sejarah dan latar belakang FKKI beserta organisasi di bawahnya.

Top